Selasa, 20 November 2012

The Amazing Spider-Man

 




Kalian pasti pernah mendengar film yang berjudul The Amazing Spider-Man. Film ini merupakan film yang menyajikan cerita Spider-Man dan tidak memiliki hubungan cerita dengan trilogi Spider-Man sebeelumnya. Film ini merupakan kelanjutan pembuatan Spider-Man, yang mungkin ditujukan agar film Spider-Man tidak berhenti dengan tamatnya seri trilogi Spider-Man pada seri yang ketiganya. 

Pada separuh bagian pertamanya, film The Amazing Spider-Man berjalan dengan cukup baik. Film ini berhasil menunjukkan karakter Peter Parker yang lebih gelap dan emosional dibandingkan pada film Spider-Man karya Sam Raimi. Hubungan romansa yang terjalin antara karakter Peter Parker dengan Gwen Stacy yang diperankan oleh Emma Stone mampu dieksekusi dengan begitu meyakinkan. Pendekatan kepada sisi personal Peter Parker yang memang diinginkan Columbia Pictures untuk hadir dominan pada The Amazing Spider-Man berhasil tampil sempurna dibawah arahan Marc Webb.

Kisah mengenai masa lalu karakter Peter Parker, hubungannya dengan paman dan bibinya serta bagaimana cara ia berinteraksi dengan sekitarnya membentuk sebuah jalinan drama dengan nada penceritaan yang lebih serius sekaligus menjadi memberikan perbedaan yang cukup menonjol dari The Amazing Spider-Man dengan trilogi Spider-Man sebelumnya.

Sayangnya, ketika film ini memasuki bagian cerita selanjutnya, dengan munculnya keterlibatan satu karakter antagonis dan si spidey memulai deretan adegan aksinya, The Amazing Spider-Man terlihat seperti tak lebih sebagai pengulangan berbagai adegan aksi yang sebelumnya telah ditampilkan Sam Raimi dalam Spider-Man. Seluruh kesegaran ide dan pendekatan yang muncul semenjak adegan awal The Amazing Spider-Man perlahan mulai luntur akibat ketidak-originalitasan konflik. Dan yang paling parahnya, film ini seperti memunculkan karakter antagonisnya yang terlihat jelas merupakan pengulangan bentuk dari Norman Osborne/Green Goblin, namun dengan menggunakan kostum yang berbeda.
Cara film The Amazing Spider-Man mengelola plot mengenai perlawanan karakter Spider-Man terhadap lawannya terlihat seperti sebuah formula lama yang kembali diulang, yaitu mulai dari motivasi sang karakter antagonis yang melenceng dari niat baiknya, pembuatan antidot untuk melawan formula kimia yang salah, hubungan Peter Parker dengan ayah Gwen Stacy, dan janji yang ia buat hingga perubahan hati sang karakter antagonis di akhir cerita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar